Tadohe Raja Bolaang-Manado (Bagian 3)

Oleh: Patra Mokoginta

MASA PEMERITAHAN DATOE TADOHE

Kebijakan Politik Datoe Tadohe

Tadohe kecil sampai usia remaja  berada di Siau saat pemerintahan Raja Winsulangi atau Don Jeronimo II. Tadohe kecil hingga dilantik menjadi Raja Bolaang sangat dikenal dan akrab dengan Raja Winsulangi.

Tadohe dilantik setelah sidang Bakid dan dikukuhkan oleh Dow pada saat usia masih remaja diperkiraan berumur antara 15 atau 16 tahun. Siau lah yang menjadi kerajaan koalisi utama Tadohe selain Ternate.

Perhatian Tadohe ke Siau saat beberapa Tahun dilantik terlihat jelas, saat penangkapan massal penduduk Siau untuk dipindahkan ke Pulau Banda Neira Maluku tahun 1616 oleh Belanda yang dipimpin oleh Kapten Adriaan van der Dusen dan Kapten Freedik Hamel. Tadohe selaku Raja Bolaang-Manado bersama-sama dengan kerajaan Tahuna berupaya menyelamatkan rakyat Siau dari penangkapan massal ini, tapi upaya kedua Raja ini kurang berhasil.

Adrianus Kojongian mengutip dalam sumber-sumber spanyol menyebut nama Raja Manado ini dengan sebutan Kaicil Tulo. Kaicil adalah sebutan pangeran untuk Maluku yang searti dengan Abo’. Seorang Raja yang sering di panggil abo’/ kaicil / Pangeran adalah Tadohe. Perbuatan belanda terhadap rakyat dan pembesar kerajaan Siau menyebar luas, bahkan sampai kedaratan Sulawesi utara. Tadohe sangat bisa membedakan faksi-faksi kulit putih antara orang-orang kastila (Spanyol), Portugis dan Belanda.

Disisi lain Tadohe masih menaruh harapan besar kepada Spanyol dan berupaya menjalin hubungan yang baik. Tahun 1617 armada Spanyol singgah di pelabuhan Manado, Tadohe menyambut dengan tangan terbuka sekutu lama moyangnya ini. Namun kunjungan kali ini tidak berlangsung lama, karena terjadi insiden orang-orang spanyol dengan suku suku alfuros / pedalaman yang menewaskan beberapa orang orang spanyol. Setiap kali terjadi pertikaian Spanyol dengan suku suku pedalaman, Tadohe pasti berpihak ke Spanyol.

Kebijakan Tadohe dan raja raja Bolaang sebelumnya memang kurang berhasrat untuk melakukan ekspansi kepedalaman. Kekuatan perang selalu diarahkan ke pesisir pantai, ke Bandar-bandar dagang seperti Belang, Kema, Manado, Amurang dan lain lain. Ini juga pengaruh geografis yang sulit di daerah pedalaman, gunung dan bukit bukit terjal hutan belantara yang rapat menjadi benteng utama suku suku alifuru di pedalaman. Armada perang kerajaan Bolaang-Manado yang bersenjatakan mesiu sangat sulit di dimobilisasi dalam hutan belantara. Namun karena Spanyol sebagai salah satu utamanya Bolaang pun merespon, sehinga beberapa kali terjadi pertikaian dengan suku suku pedalaman.

Sampai dengan Tahun 1630-an. Beberapa kali spanyol terlibat konflik dengan suku suku Pedalaman, Bolaang-Manado melibatkan diri dalam konflik ini demi menjaga relasi. Disisi lain Raja Tadohe masih terus menghadapi faksi-faksi oposisi dari kalangan suku-suku yang merupakan Rakyat kerajaan Bolaang-Manado sendiri. Di Tahun ini aliansi dengan Spanyol tetap teguh. Bahkan putranya (Loloda) Mokoagow pada tahun 1636 di fasilitasi oleh Spanyol berangkat ke Manila ke Perguruan Tinggi Yesuit untuk di didik dan d bimbing oleh autoritas Spanyol (Antonio Lopez). Pembelajaran yang sangat berharga untuk sang Pangeran (Loloda) Mokoagow yang kelak akan berhadapan musuh spanyol yakni Belanda.

Dari sumber sumber Spanyol yang di kutip oleh Antonio Lopez, bahwa Tahun 1637 Raja ini meminta bantuan Militer kepada Gubernur baru Malucco, Pedro De Mendiola. Saat itu kekuatan Pasukan Spanyol di Maluku berjumlah 570 orang, ditambah pasukan pampangos Indian 200 orang. Bantuan militer ini untuk menghadapi pemberontakan pemberontakan dalam daerah kerajaan Bolaang-Manado.

Kisah Perang Raja Tadohe dengan Loloda.

Dalam hikayat dan telah di tulis berulang ulang kali beberapa penulis, mengkisahkan ‘bahwa saat Raja Tadohe memerintah, armada kora kora dari Kerajaan Loloda (Halmahera) tiba di pantai Belang. Raja Tadohe saat mendengar adanya armada besar dari kerajaan Loloda segera mengumpulkan pasukan boganinya dan menggempur orang orang loloda ini, Tadohe berhasil mengalahkan armada loloda serta merampas seluruh perahu kora kora milik Loloda di saat bersamaan lahirlah Putra Tadohe dan diberi nama Loloda Mokoagow.’ Demikian sepenggal kisah peperangan Kerajaan Bolaang-Manado melawan Loloda di pantai belang hingga kema.

Kisah di atas sangat perlu di koreksi.

Sampai saat ini saya belum mendapatkan data atau dokumen tentang kedatangan armada besar Loloda ke belang di era Tadohe. Wuri Handoko dalam artikelnya berjudul “kerajaan Loloda : Melacak jejak arkeolog dan sejarah” awal abad 16 kerajaan Loloda kehilangan pengaruh dan perannya akibat di aneksasi oleh kerajaan Ternate. bahkan dalama artikel yang sama menyebutkan kerajaan ini dihuni oleh penduduknya yang tidak lebih dari 200 orang, Raja Loloda dalam keadaan miskin, untuk makan sehari hari sang raja harus menebang pohon sagu sendiri.

Dari informasi di atas jelas ekpansi yang di abad 16 (1500-an) Loloda sudah tidak mampu lagi melakukan ekspansi keluar wilayah Halmahera sehingga pertemuan pasukan Loloda dengan Pasukan Raja Tadohe faktanya tidak pernah terjadi. Kemungkinan kedatangan armada Lolodake semenanjung utara Sulawesi bisa terjadi pada masa jaya kerajaan Loloda, Yakni akhir abad 15 bersamaan dengan kepeminpinan Raja Bolaang-Manado di bawah raja Damopolii. Hikayat hikayat tentang Loloda yang pernah menguasai Maadon jauh waktunya dengan masa Tadohe.

Web GMIBM mengutip sumber sumber eropa menyatakan bahwa Raja Manado awalnya bernama Mokoagow namun dia menambahkan nama depannya sebagai Loloda Mokoagow. Artinya  Raja Manado Putra dari Tadohe ini, sebenarnya bernama Raja Mokoagow dan Loloda pada nama depannya di tambahkannya sebagai nama gelar sebagai legitimasi atas kepemilikan Manado, yang di aneksasi oleh leluhurnya Raja Damopolii. Loloda Mokoagow yang berarti orang yang merampas milik Loloda, terkait peristiwa di zaman Damopolii bukan zaman Tadohe.

Peperangan di zaman Tadohe adalah melawan kuasa Gowa Tallo, Tadohe pernah meminta Bantuan Pamannya yang merupakan Raja Siau untuk membebaskan Buol dari Cengkraman Gowa Tallo. Ekspedisi gabungan Bolaang-Siau bukan hanya Buol. Namun sampai ke Mountong. Bahkan kaidipang pun sempat di santroni oleh armada Gabungan Bolaang-Siau. Kelak saat pergantian Raja Bolaang dan suksesi Raja Siau, terjadi perubahan hubungan diplomatic antara Siau dan Bolaang. Ketika  Raja Ventura bertahta di Siau hubungan dengan kerajaan Tadohe sedikit renggang.

Diperoleh juga infirmasi bahwa Selain (Loloda) Mokoagow Tadohe juga mempunya putra bernama Makarompis yang kemudian menjadi panglima perang Loloda Mokoagow Bersama dengan bekas Jogugu Siau d’arras. Armada de’arras dalam operasi militernya atas nama Bolaang-Manado. Ini menandakan hubungan yang tetap terjaga antara Siau dan Bolaang walau saat raja Batahe bertahta menjadi Musuh putra Tadohe yakni (Loloda) Mokoagow.

Dari informasi di atas dapat di simpulkan bahwa Loloda adalah Nama gelar yang di sematkan oleh Prins Mokoagow Ketika menjabat menjadi Raja, tidak ada kaitan dengan kelahirannya selain unsur politik untuk klaim atas Manado berdasarkan warisan dari Raja Damopolii.

Peperangan yang terjadi di zaman Tadohe bukanlah melawan kuasa Loloda Halmahera tapi memadamkan pemberontakan internal selain untuk mengamankan sekutu seperti Buol dan kaidipang.

Salah satu Poin penting yang dapat di ambil dari sejarah Tadohe ini bahwa Loloda merupakan nama gelar yang di sandang oleh Mokoagow.  Dengan demikian ada beberapa nama yang di sandang oleh satu orang yakni Raja Mokoagow, Raja Loloda Mokoagow adalah orang yang sama. Selain itu Raja Loloda dari Maadon adalah raja asal Loloda Halmahera yang dalam waktu yang singkat pernah menundukan kerajaan Bolaang hingga Mountong sebelum akhirnya di halau dan di tundukan oleh Raja Damopolii.

Selain itu ada versi bahwa dalam rangka menuntut kembalinya Manado ke Bolaang, Manoppo (Jacobus) juga sering menggunakan nama ayahnya ( Loloda Mokoagow) untuk mempengaruhi suku suku yang sudah berpaling ke Belanda. Tiga orang yang menggunakan nama loloda di jazirah Sulawesi utara pada zaman berbeda yakni :

  • Loloda dari Maadon. Sumber lain juga menyebut dengan nama Lolo nama lain dari Halmahera. Gi-lolo atau lolo Fanua versi Bahasa Loloda yang disebut sebagai Lokong banua versi hikayat di semenanjung Sulawesi utara. Terjadi di abad 15. Nama Lolo pernah dikutip dalam novel fiksi pingkan oleh Taulu cetakan pertama sebelum akhirnya di edit di tambahkan kata “da’ sehingga menjadi Loloda.
  • Loloda Mokoagow putra Tadohe . Raja Bolaang-Manado. Abad 17
  • Loloda Mokoagow yang di sandang oleh Jacobus Manoppo. Manoppo putra dari Loloda Mokoagow, biasanya penulis hikayat menuliskannya dengan kodefikasi Loloda Mokoagow II. Dalam kontrak dengan VOC, raja ini tetap disebut sebagai Raja Manoppo (bukan Loloda mokoagow).

Demikian sekilas tentang Datoe Tadohe, Abo (Prins) Tadohe atau sumber spanyol menyebutnya Kaichil (Prins) Tulo  Raja Manado. Seorang Raja Bolaang- Manado

Sumber yang diolah :

*Penulis adalah warga Kotamobagu dan penggiat sejarah

 

 

Komentar