Lena Mokoginta: Perempuan Mongondow Peserta Kongres Sumpah Pemuda 1928

Oleh: Murdiono P. A. Mokoginta

Kondisi internal Kerajaan Bolaang Mongondow bergejolak pasca wafatnya Raja Datoe Cornelis Manoppo.

Beliau meninggal pada 2 Juni 1926 setelah memerintah Kerajaan Bolaang Mongondow selama 26 tahun.

Banyak perubahan yang terjadi di masa beliau memerintah terutama dalam stabilitas sosial, pendidikan, dan pembangunan infrastuktur terutama jalan dan jembatan penghubung antar desa.

Bersama menantunya Djogugu Abram Patra Mokoginta (1911-1925) yang kharismatik dan tegas, para sangadi di desa-desa lebih muda diatur untuk ikut serta dalam pembangunan negeri saat itu.

Tapi semua itu seketika berubah tatkala D. C. Manoppo wafat. Tanda tanya di masyarakat tentang siapa yang memerintah sepeninggal raja itu menyebar bak desas-desus. Karena itu para tokoh-tokoh bangsawan kerajaan segera berkumpul untuk menentukan siapa yang akan menjadi raja penganti D. C. Manoppo.

Nama A.P. Mokoginta naik ke permukaan dan mendapat dukungan dari sebagian petinggi-petinggi istana. Hanya saja karena dianggap berbahaya dan mengancam kedudukan kolonial sehingga ia disingkirkan dari istana.

Sebagian bangsawan justru bersikeras tetap memberikan kedudukan tersebut kepada Raja Laurens Cornelis Manoppo yang akhirnya disepakati setelah hampir setahun tidak ada raja yang menduduki tahta kerajaan (Mokoginta, dkk, 2023).

Pada tanggal 7 Juli 1927 Laurens Cornelis Manoppo naik tahta setelah kepergian Djogugu A.P. Mokoginta ke Batavia. Raja Laurens sendiri sebenarnya adalah seorang yang memiliki pendidikan yang layak.

Beliau banyak menghabiskan sebagian besar masa kecil dan remajanya di Jawa yang membuka pemahamannya mengenai dunia luar. Beliau melanjutkan pekerjaan ayahnya untuk membangun Bolaang Mongondow menjadi lebih baik.

A.P. Mokoginta yang disingkirkan dari istana memilih untuk membuka lembaran baru kehidupannya di negeri orang. Beberapa jabatan penting ia duduki saat berada di Batavia antara lain Anggota Gemeenteraad (Dewan Kota Batavia), Kepala Balai Pustaka, dan jabatan-jabatan lain yang dianggap layak untuk orang jenius seperti beliau.

Di Batavia ini pula ia melahirkan beberapa karya bukunya antara lain: Verzameling van Reglementen en Keuren van Politie in de Residentie Manado (1934) dan Verzameling van Zelfbestuursverordeningen in de Residentie Manado (1935).

Kehidupan di Batavia benar-benar cara pikir A.P. Mokoginta untuk melihat dunia. Ia berfikir bahwa pendidikan adalah sarana untuk mengubah negeri yang terbuai dalam feodalisme dan keterbelakangan.

Ia lalu mengusahakan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Salah satu anaknya yang menonjol adalah Magdalena Mokoginta, dara yang cantik keturunan bangsawan Bolaang Mongondow.

Lena Mokoginta menamatkan sekolahnya di Meer Uitgebried Lager Onderiwijz (MULO). Kelak ia menjadi istri Raden Said Sukanto Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) pertama Indonesia.

Lena Mokoginta tidak hanya menjadi perempuan yang manja dan glamor meski lahir dari keluarga yang berada. Selama menempuh pendidikan ia menjadi sosok yang kuat dan memiliki mental pejuang hingga membawanya dalam panggung sejarah Indonesia.

Selama menempuh pendidikan, ia aktif berorganisasi yang kemudian membentuk karakter yang kuat dan berani dalam dirinya.

Saat bersekolah di MULO Lena berkawan dengan Johanna Tumbuan yang kemudian dikenal dengan Jo Masdani. Lena juga bergabung dengan Jong Celebes yang kala itu diketuai dr. Senduk (Nur Janti, 2020).

Jong Celebes inilah yang kemudian membawa Lena Mokoginta, gadis asal Mongondow untuk ikut terlibat dalam salah satu babakan pergulatan sejarah nasional Indonesia yakni Sumpah Pemuda 1928.

Seorang diplomat terkenal Indonesia, Prof. Hasjim Djalal pernah berkata “Tiga peristiwa monumental sejarah Indonesia: Sumpah Pemuda 1928 sebagai terbentuknya bangsa, Proklamasi Kemerdekaan 1945 sebagai lahirnya negara, dan Deklarasi Juanda 1957 sebagai terwujudnya wilayah kedaulatan Indonesia (Susanto Zuhdir, 2014).

Kalimat di atas dengan tegas menyatakan bahwa Sumpah Pemuda 1928 adalah permulaan sejarah Indonesia modern saat bangsa Indonesia terbentuk menjadi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Sejak berdirinya Boedi Utomo tahun 1908 pemuda menyadari bahwa salah satu penghambat kemajuan bangsa adalah “ego kewilayahan” yang berbangga-bangga dengan kerajaan (negeri asal) masing-masing, suku, asal-usul, dan kedaerahan sehingga tidak ada persatuan untuk memikirkan cara keluar dari belenggu penjajahan. Lahirnya organisasi pemuda dan generasi terdidik membuat kondisi Hindia Belanda bergejolak.

Perubahan yang pesat dan radikal dari organisasi-organisasi pemuda ini mendorong para pemuda untuk mengejar persatuan yang lebih luas. Maka pada tanggal 30 April – 2 Mei 1926 berlangsunglah rapat besar pemuda yang kemudian dikenal dengan nama Kongres Pemuda I di Jakarta.

Tujuan kongres ini adalah mencapai jalan membina perkumpulan pemuda yang tunggal, yaitu membentuk sebuah badan sentral dengan maksud memajukan paham persatuan kebangsaan dan mempererat hubungan antara semua perkumpulan-perkumpulan pemuda kebangsaan (Abdullah & Lapian, 2012: 359).

Sejak kongres pemuda I tahun 1926, dua tahun antara 1927-1928 gerakan pemuda Indonesia mulai menghendaki fusi seluruh organisasi-organisasi kewilayaahan (kedaerahan) untuk membentuk organisasi Pemuda Indonesia yang terdiri dari seluruh organisasi yang telah ada.

Rapat-rapat terbuka pemuda ketika itu banyak membahas tentang persatuan bangsa, pendidikan, dan emansipasi wanita.

Puncaknya terjadi pada saat Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 yang dihadiri oleh perwakilan pemuda dari seluruh wilayah Hindia Belanda untuk mengikrarkan sumpah satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Di antara peserta kongres saat itu hadir pula putri Bolaang Mongondow, Magdalena Mokoginta.

Pada kongres ini Lena Mokoginta hadir sebagai utusan Jong Celebes bersama Arnold Monotutu dan Waworuntu. Jong Celebes adalag organisasi pemuda yang tujuannya ialah mempererat rasa persatuan dari tali persaudaraan di kalangan pemuda pelajar yang berasal dari Pulau Sulawesi (Santoso, dkk, 2023: 363).

Yang unik dari sosok Lena Mokoginta dalam momen ini dia tidak hanya mewakili Celebes sesuai kapasitasnya sebagai Sekretaris Jong Celebes saat itu. Lena Mokoginta juga hadir sebagai sekretaris dan anggota delagasi Kongres Indonesia muda di Solo (Sutjiatiningsih, 1999: 13).

Peristiwa Sumpah Pemuda 1928 akhirnya menjadi inspirasi seluruh angkatan muda yang ada di Hindia Belanda pada masa itu untuk serius memperjuangkan lahirnya Indonesia raya. Selain itu peristiwa ini memiliki arti bagi Bolaang Mongondow yang berada di Celebes Utara, Keresidenan Manado.

Saat itu mungkin tidak ada orang Mongondow yang membayangkan atau mengetahui bahwa salah satu putrinya, Magdalena Mokoginta menjadi salah satu peserta kongres bersejarah tersebut. Ia turut mengambil bagian dalam episode sejarah Indonesia meski terbuang di negeri orang akibat feodalisme di negeri asalnya.

Kiranya patut berbangga bahwa momentum Sumpah Pemuda yang dirayakan tiap tahun kita tidak hanya menjadi penoton atau peserta upacara tetapi ikut menghargai perjuangan putri asli Bolaang Mongondow yang menjadi salah satu peserta kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Sosok Magdalena Mokoginta juga kiranya bisa menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan Bolaang Mongondow untuk turut serta mengisi pembangunan Indonesia dalam segala bidang khususnya pembangunan Bolaang Mongondow Raya tercinta.

*) Penulis adalah Ketua Pusat Studi Sejarah Bolaang Mongondow Raya (PS2BMR). Menulis Buku “Perlawanan Rakyat di Pedalaman Mongondow Tahun 1902, (Penerbit Ombak: 2024”.

Komentar