Yayasan AKU Rimba Indonesia Gelar Sekolah Lapang Pengomposan, Pemilahan, dan Pengolahan Sampah

BNews, KOTAMOBAGU — Yayasan Aku Rimba Indonesia (YAKU) menggelar sekolah lapang pengomposan, pemilahan dan pengolahan sampah di sejumlah desa.

Sekolah lapang ini melibatkan kelompok perempuan atau ibu rumah tangga. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Ketahanan Masyarakat Sulawesi Utara Melalui Kebijakan Mitigasi Perubahan Iklim dan Penghidupan Adaptif.

Program Manager Human Resources And Community Engagement, YAKU, Irfan Saputra, menjelaskan, tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik.

“Kami mengikutsertakan perempuan atau ibu-ibu rumah tangga, karena kami fokus pada pengolahan sampah rumah tangga,” jelasnya, di sela-sela kegiatan sekolah Lapang di tempat wisata Danau Mo’oat Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Rabu (11/3/2026).

Menurut Irfan, sampah rumah tangga ini biasanya berkaitan langsung dengan ibu-ibu rumah tangga.

“Sehingga memang sasaran kegiatannya kami fokuskan kepada ibu-ibu,” ujarnya.

Irfan mengungkapkan, kegiatan ini menargetkan sebanyak 250 orang ibu-ibu dari 14 desa di lokasi program, yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur dan Bolaang Mongondow Selatan.

“Outputnya kita berharap para peserta ini nantinya bisa mengolah sampah organik menjadi kompos, dan sampah anorganik bisa diolah menjadi barang yang berguna atau dijual kembali,” kata Irfan.

Sekolah lapang ini, terang Irfan sudah dilaksanakan sejak Selasa (10/3/2026) kemarin, di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow.

“Kegiatan ini dimulai di Desa Nanasi dan Baturapa II, dan tadi pagi juga dilaksanakan di Desa Langagon Satu, sorenya di sini (Desa Mo’oat), nah terus berlanjut sampai hari Jumat, di Bolaang Mongondow Selatan,” kata Irfan.

Dia menambahkan, kegiatan ini juga melibatkan sejumlah pihak terkait, yakni Pemerintah desa setempat dan instansi terkait lainnya.

“Untuk pemateri ada dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara dan dari Cilmate Institute,” tambahnya.

Di sisi lain, Irfan berharap, kegiatan tersebut dijadikan juga sebagai program pemerintah desa.

“Harapannya ini bisa direplikasi oleh pemerintah desa, sehingga semakin banyak warga yang mengolah dan memilah sampah di level rumah tangga. Pada gilirannya nanti, upaya tersebut akan menciptakan desa yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim,” pungkasnya.

Diketahui para pemateri pada kegiatan ini, yakni Kepala Bidang Pengendalian pencemaran Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sulut, Danso Ayhuan dan Direktur Climate Institute, Putri Damayanti Potabuga.

Reporter: Erwin Ch Makalunsenge

Komentar